Informasi

Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Visi BKN : Menjadi Pembina dan Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Profesional dan Bermartabat Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Segala Pengurusan Kepegawaian Tidak Dipungut Biaya Apapun...; Melayani Dengan Peduli Ikhlas dan Bertanggung Jawab Melayani dengan Peduli, Iklas dan Bertanggungjawab ... ;
Rabu, 18 Maret 2020 - 13:02:42 WIB

Mematrikan Semangat Juang Para CPNS


Diposting oleh : Teamweb
Kategori: Kepegawaian - Dibaca: 2.003 kali

Mematrikan Semangat Juang Para CPNS
Dalam suatu kesempatan saya diminta untuk memberikan asistensi kepada para mahasiswa jurusan administrasi publik salah satu kampus negeri yang ada di Yogyakarta. Mereka diberikan tugas oleh salah seorang dosen mata kuliah manajemen sumber daya manusia dengan memilih spesifikasi topik mengenai pengelolaan sumber daya manusia aparatur yang tentu menjadi core business dari Badan Kepegawian Negara (BKN).

Salah satu topik yang ingin mereka gali yakni terkait dengan implementasi dari pelaksanaan latihan dasar (latsar) bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebelum nantinya dapat diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka ingin mengetahui apa sebenarnya yang membedakan antara Latsar ini dengan bentuk pendidikan dan latihan (diklat) lain yang sebelumnya disebut sebagai diklat pra jabatan. Sebelum datang ke kantor untuk melakukan diskusi, ternyata mereka sudah menyiapkan diri dengan amunisi materi yang ingin dieksplor. Beberapa bahan materi sudah mereka dalami dan petakan sehingga saat penggalian informasi sudah langsung tune in.

Menariknya, tidak hanya menanyakan hal deskriptif yang secara umum ingin diketahui mengani Latsar, fokus perhatian mereka langsung tertuju pada aspek lain yang sifatnya lebih evaluatif. Alih-alih bertanya mengenai bagaimana dan apa itu Latsar, fokus perhatian mereka lebih tertuju pada aspek dampak yang dihasilkan dari kegiatan Latsar.

Simpelnya, mereka ingin mengelaborasi mengenai apa dampak yang dihasilkan dari kegiatan Latsar serta capaian yang ingin diraih (outcome). Lebih menohok lagi, pada pertengahan diskusi mereka melakukan challenge dengan menanyakan “Bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa proses Latsar yang telah dijalankan oleh seorang CPNS itu berhasil sesuai dengan tujuan mulia dari Latsar itu sendiri?”, sebuah pertanyaan sederhana namun kaya akan makna. Pertanyaan ini layak untuk dijadikan bahan diskusi lanjutan bagi para pengelola Latsar untuk semakin menajamkan pola maupun target yang seharusnya ada dalam setiap penyelenggaraan pendidikan dan latihan.

Memahami Latsar CPNS
Latsar merupakan salah satu program terintegrasi yang harus diikuti oleh seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebelum nantinya dapat diangkat menjadi PNS. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari program masa percobaan kegiatan selama satu (1) tahun sebagai bahan pertimbangan apakah nantinya dapat diangkat menjadi PNS atau tidak.

Apa yang membedakan antara Latsar sekarang dengan diklat Pra Jabatan yang telah berjalan sebelumnya? yang paling mencolok perbedaan terlihat pada durasi waktu penyelenggaraan serta project yang harus dijalankan. Pada diklat Pra Jabatan sebelumnya, waktu diklat hanya sekitar tiga (3) minggu sementara pada Latsar kurang lebih 113 hari kerja yang terbagi dalam dua fase yakni tahap on campus dan off campus.

Tahap on campus dilaksanakan selama 33 hari sementara tahap off campus selama 80 hari. Tahap on campus dimaksimalkan dalam internalisasi nilai-nilai materi sesuai dengan kurikulum yang telah dijawabarkan oleh LAN, sementara tahap off campus digunakan untuk penajaman habituasi dan aktualisasi di konteks kerja sesuai dengan bidang kompetensi dan jabatan yang dimiliki seorang CPNS.

Tujuan dari Pelatihan terintegrasi ini adalah untuk membangun serta menanamkan nilai-nilai integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, profesionalisme, serta kompetensi bidang dalam rangka penguatan nilai-nilai dan pembangunan karakter PNS yang unggul.

Secara teknis Latsar diatur dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (Perka-LAN) Nomor 12 Tahun 2018, tentang Pelatihan Dasar CPNS. Beberapa materi diberikan untuk memberikan pemahaman secara konsep maupun teknis sebagai bekal untuk menjadi pelayanan masyarakat saat sudah terjun langsung di satuan kerja.

Beberapa materi yang diajarkan diantaranya mengenai: Wawasan Kebangsaan dan Nilai-nilai Bela Negara, Analisis Isu Kontemporer, Kesiapsiagaan Bela Negara, Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi, Whole of Government, Manajemen ASN, serta Pelayanan Publik. Pada akhir periode akan dilaksanakan agenda Habituasi di tempat kerja untuk menguji kesiapan peserta dalam mengaktualisasikan substansi materi yang telah diterima sebelumnya.

Pembelajaran agenda habituasi diberikan setelah peserta menyelesaikan seluruh agenda pembelajaran secara berurutan. Pembelajaran aktualisasi dan habituasi bertujuan untuk mengingatkan kembali sesi pembelajaran yang telah diperoleh serta mengarahkan peserta menyiapkan diri untuk melakukan setiap tahapan pembelajaran dalam bentuk aktualisasi di tempat kerja. Peserta akan dibimbing untuk menyusun rancangan aktualisasi dan “mensintesakan” substansi mata-mata pelatihan agenda kedudukan dan peran PNS dalam NKRI dan nilai-nilai dasar PNS ke dalam rancangan aktualisasi.

Pada tahap aktualisasi ini peserta akan memperoleh pembimbingan dari coach (pembimbing yang ditunjuk dari lembaga pelatihan) dan mentor (atasan peserta), sehingga diharapkan mampu menyusun kertas kerja rancangan aktualisasi, melaksanakan seminar rancangan aktualisasi, menerapkan rancangan aktualisasi dan menyusun laporan aktualisasi selama masa pembelajaran non klasikal (off campus) di tempat kerja.

Meneguhkan Konsep Habituasi
Habituasi secara harfiah diartikan sebagai sebuah proses pembiasaan pada/atau dengan “sesuatu” supaya menjadi terbiasa atau terlatih untuk melakukan “sesuatu” yang bersifat instrisik pada lingkungan kerjanya (modul Latsar LAN). Pada konteks Latsar, Pelatihan Dasar CPNS dalam pembelajaran agenda habituasi difasilitasi untuk menghasilkan suatu penciptaan situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan peserta dapat melakukan dengan mudah sesuai nilai-nilai yang telah ditanamkan selama proses on campus.

Dari pengertian ini dapat terlihat bahwa esensi sesungguhnya dari Latsar terletak pada proses Habituasi itu sendiri. Habituasi yang mengandung makna secara hakiki sebagai upaya dalam menumbuhkembangkan kebiasaan, tata nilai, dan etos kerja yang orisinil, apa adanya dan tanpa pamrih. Penciptaan tersebut diarahkan pada pembentukan karakter sebagai karakter diri ideal melalui proses internalisasi dan pembiasaan diri yang akan diteruskan pada pelaksanaan tugas jabatan di tempat kerja.

Pada latsar, proses habituasi dijalankan secara integral melalui kegiatan monolog, diskusi, games, paparan, serta kegiatan kokurikuler yang terjadwal secara ketat. Selain mengikuti kegiatan yang bersifat formal, para peserta Latsar juga dipandu untuk memerankan diri pada pada ranah yang bersifat sosial seperti kerja bakti, senam kesegaran jasmani, pelatihan baris berbaris, apel, serta praktek ibadah. Misalnya, para peserta akan dipandu secara aktif terlibat kegiatan peribadatan seperti sholat dan ngaji bermaja’ah maupun latihan kultum. Semua kegiatan ini dimaksudkan untuk mematrikan nilai-nilai ruhiyah keagamaan serta etos kerja kedalam diri sehingga nantinya dapat melayani masyarakat secara berkualitas, dengan penuh kepedulian dan empati (excellent service).

Permasalahan yang muncul, apakah keoptimalan diri dalam ranah diklat ini konsisten dengan keoptimalan nantinya pasca diklat? Artinya, apakah apakah seorang peserta yang terlihat optimal sewaktu mengikuti Latsar akan diikuti juga keoptimalan saat telah terjung langsung di tempat kerja? Secara penelitian memang belum tampak data yang menggali kearah sana. Meskipun demikian, asumsi ini didukung oleh realita yang menunjukkan bahwa tidak sedikit para CPNS yang awalnya cukup “militan” namun saat sudah memperoleh status PNS menjadi seolah “karbitan”.

Oleh karenanya, dibutuhkan jangkar besar yang mampu menarik dan membawa sikap maupun perilaku para alumni Latsar supaya selalu tetap dalam jalur yang inline dengan jiwa militansi, dan ini dapat diperankan melalui proses habituasi.

Indikator keberhasilan dari proses habituasi tercermin dari konsistensinya sikap alumni Latsar dalam menghadirkan seluruh nilai yang telah ditanamkan selama Latsar kedalam konteks kerja secara simultan dan berkelanjutan. Ada gairah, ada semangat dan motivasi kerja, ada bayangan yang hendak diwujudkan dalam membangun dan mengembangkan organisasi. Ada kepekaan hakiki yang mencerminkan bahwa esensi dari seorang pelayanan masyarakat adalah melayani dan membuat senang pihak yang dilayani, bukan sebaliknya. Ia akan sangat senang jika dapat melayani/memberikan bantuan, kebahagiaan hanya akan Ia peroleh saat melayani.

Apa Yang Semestinya Dilakukan?
Kepekaan peserta, konsistensi dan keakraban terhadap motif bekerja lebih baik, dan kemampuan menunjukkan ditempat kerja merupakan simpul-simpul tolok ukur keberhasilan dari Latsar. Untuk menjaga keberlangsungan proses habituasi, alumni Latsar perlu dibantu menemukan lingkungan yang mendukung serta adanya role model yang akan dijadikan figur atau contoh teladan nyata dalam ranah kerja. Hal ini untuk membantu memelihara semangat dan etos kerja yang telah dimiliki sewaktu Latsar supaya tidak luntur dan semakin memudar.

Adanya lingkungan yang cocok dan mendukung proses gerak dan dinamisasi peran dari alumni Latsar akan mendorong daya gerak mengingat tidak semua memiliki basic kepribadian yang sama. Ada yang mudah untuk memerankan diri secara aktif, dinamis dan ekspresif. Namun tidak sedikit pula yang memiliki karakter yang cenderung pasif atau bergerak hanya ketika diminta. Untuk kategori yang kedua ini, sangat dibutuhkan dorongan/lingkungan yang kondusif sehingga kecenderungan untuk luntur dapat diminimalisir.

Selain itu, aspek monitoring dari pimpinan unit kerja juga mutlak dibutuhkan. Alumni Latsar yang notabene sebagai pegawai baru tentunya masih sangat labil dalam membawa diri sesuai dengan tuntutan dan dinamika organisasi. Ada masa transisi antara aspek idealis dan praktis yang dibutuhkan seni tersendiri dalam mengelolanya. Jika mereka dipantau, dibina, dan dimaksimalkan, tentu atribut mereka akan berkembang sesuai dengan arah dan kebijakan yang diharapkan organisasi. Sehingga, ke-idealisme-an dalam Latsar akan terus tertanam.
 
 
 
Ditulis Oleh: Ridlowi, S.Sos, MA
Bekerja di Kanreg I BKN






Berita Terkait